Monday, September 6, 2010 13:46

“Goliath” Migas Dari Negeri Beruang Merah

Posted by admin on Friday, November 21, 2008, 8:50
This news item was posted in Internasional category and has 0 Comments so far.

Perusahaan migas asal Rusia, Sintezmoneftegaz tampaknya tak ingin membuang kesempatannya dalam bursa tender 21 blok migas yang digelar oleh Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral Kamis pekan lalu (13/11).
Sintezmoneftegaz yang berinduk di Sintez Group (Holding Company,red), Rusia ini, berhasil memenangkan tender sebagai kontraktor untuk blok migas lepas pantai di laut Bawean Timur I. Data yang dilansir dari Departemen ESDM menyebutkan Kontrak Kerjasama (KKS) selama tiga tahun itu memuat beberapa perjanjian. Pertama, eksplorasi berupa studi geologi dan geofisika, dengan nilai kontrak. Kedua, survei seismic 2D, survei seismik 3D. Total investasi Sintezmoneftegaz untuk kerjasama bagi hasil ini, mencapai 17,45 juta US dolar.

Usai memenangkan tender, malam harinya, Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Alexander B. Ivanov, menggelar jamuan ‘coctail party’ bersama Sintez Group, di kediamannya, di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Di saat yang bersamaan, kami mendapat kesempatan untuk mewawancarai Ivanov, dan perwakilan Sintez Group.

Rombongan Sintez Group yang dipimpin oleh Dr. Yuri F Federovsky itu, menegaskan bahwa perusahaan yang terdiri dari 33 anak perusahaan yang sebagian berada di kawasan utara itu tak mau main-main menjalin kerjasama migas di kawasan Asia Tenggara, apalagi Indonesia.

Sebagai bukti keseriusan, General Director JSC Arctisheffnegtegaz, Boris Kutychkin, menjelaskan Sintez Group akan mengerahkan seluruh potensi sumber daya, baik modal, teknologi, maupun tenaga ahli. “Itu merupakan bentuk kontribusi kami untuk mengembangkan sektor minyak dan gas Indonesia,” ungkap Boris, melalui penterjemah berbahasa Inggris kepada Merdeka.

Disamping itu, Sintezmoneftegaz berjanji akan mengikutsertakan tenaga-tenaga ahli Indonesia untuk bersama-sama mengerjakan eksplorasi, dan eksploitasi blok migas Bawean. Boris juga menyambut baik  dukungan pemerintah dan parlemen yang terus meningkatkan kerjasama produksi di sektor migas dengan perusahaan-perusahaan berkelas. Salah satu contohnya, adalah production sharing contract (KKS) yang memberi termin selama 30 tahun bagi kontraktor, menurut Boris hal itu mengindikasikan niat baik dari pemerintah.

Lebih jauh lagi, bagi Rusia, kerjasama ini adalah kerjasama strategis. Pasalnya, selain memiliki ikatan sejarah dengan Rusia, Indonesia merupakan mitra strategis di masa depan. “Dari fakta di atas, perusahaan swasta di Rusia mulai menghitung kerjasama sharing produksi dalam bidang migas,” beber Ivanov.

Secara umum, sektor bisnis Sintez Group meliputi bidang investasi dan infrastruktur pembangkit listrik, eksplorasi dan produksi migas, berlian dan tembaga, terakhir adalah sektor properti. Wilayah bisnis Sintez sendiri tersebar mulai dari St. Petersburg Rusia, Jerman, Macedonia, Libya, Indonesia, Angola, hingga Namibia.

Di St. Petersburg, Jerman, Macedonia, Sintez Group menggarap proyek investasi, penyediaan pasokan listrik, dan infrastruktur pembangkit listrik. Khusus mengenai sektor properti, Moskow adalah daerah yang pernah mencicipi buah karya Sintez. Sedangkan tambang berlian dan tembaga, hingga kini, Sintez masih beroperasi di wilayah Namibia.

Saat ditanya apakah Sintezmoneftegaz akan mengabaikan tanggung jawab sosial, layaknya kontraktor-kontraktor tambang yang lain, Boris menjawab,”Kami tidak mau kehilangan muka kami.”

Indonesia, Mitra Masa Depan Rusia
Anda tentu masih ingat dengan kunjungan mantan Presiden Vladimir Putin ke Indonesia September tahun lalu. Selain menjajaki kerjasama bilateral, Putin juga memboyong 110 pengusaha asal Rusia (KADIN Rusia) dalam kunjungannya tersebut. Sejumlah kerjasama pun terjalin, baik yang sifatnya G-to-G, maupun Board of Chamber-to-Board of Chamber.

Kedatangan Putin, tentunya tak sekedar membalas kunjungan Presiden SBY. Lebih jauh lagi, di mata Rusia, Indonesia memiliki arti penting, baik sebagai kawan, mitra, atau bahkan saudara. Sebagai kawan, Rusia pernah menentang Agresi Belanda II di forum PBB. Bahkan negeri beruang merah itu juga sempat menerima surat resmi dari Belanda perihal kesepakatan dengan Indonesia, pada 24 Desember 1949, yang intinya mengkonfirmasikan kepada Sovyet bahwa Indonesia masih berada dalam koloni Belanda. Sovyet tetap saja ‘ngeyel’, melalui Menteri Luar Negeri Uni Sovyet, Andrei Vyshinsky, malah mengirimkan telegram kepada Dr. Mohammad Hatta. Pesan itu berbunyi:

“Atas nama pemerintah Uni Soviet, saya dengan hormat menginformasikan kepada Anda, sejak pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949 di Den Haag, Belanda, pemerintah Uni Soviet memutuskan mengakui kedaulatan dan kemerdekaan Republik Indonesia dan akan membangun hubungan diplomatik dengan Indonesia.”

Hal itu dibenarkan oleh Duta Besar Federasi Rusia untuk Indonesia, Alexander B. Ivanov, yang disampaikan kepada Merdeka (13/11). “Ketika Indonesia berjuang untuk merdeka dari imperialisme Belanda, Rusia memberikan dukungan serius untuk kemerdekaan Indonesia. Kami merupakan salah satu negara yang mendukung penuh kemerdekaan Indonesia,” tegas Ivanov.

Sejak saat itu pula kran kerjasama Rusia-Indonesia mulai terbuka. Mulai dari rumah sakit, stadiun utama, hingga peralatan militer mendapat bantuan penuh dari Rusia. Khusus mengenai persenjataan dan teknologi, Rusia sangat konsen membantu Indonesia.

Tak hanya memberikan bantuan kredit persenjataan senilai 1 miliar dolar AS, kala itu Sovyet juga memberikan kesempatan kepada prajurit TNI untuk mendapatkan pelatihan teknis di Moskow dan Leningrad (St. Petersburg). Model jemput bola juga dilakonin, Rusia turut mengirimkan 1000 instrukturnya ke berbagai daerah di Indonesia. Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Madiun adalah kota-kota yang pernah disinggahi oleh instruktur Rusia untuk memberikan pelatihan kemiliteran.

Paska 1967, hubungan bilateral Indonesia-Rusia tak seperti biasanya. Faktor politik global, runtuhnya blok Sovyet, pengaruh AS ke Indonesia, perbedaan ideologi, adalah penyebab hubungan ini tak ’semesra’ sediakala.

Kesadaran agar kemesraan itu perlu dirajut kembali, tampaknya disadari oleh kedua belah pihak. Kunjungan Presiden SBY ke Rusia dibalas Putin. “Kunjungan Putin adalah kunjungan bersejarah. Ini merupakan kunjungan pertama presiden Rusia sejak 50 tahun terakhir,” ungkap Ivanov.

Begitupun saat ia menghadiri haul RS Persahabatan ke 45. Ivanov berkeinginan untuk merajut kerjasama di bidang kedokteran. “Rusia berniat untuk memberikan vaksin TBC, kita tahu bahwa TBC menjadi penyakit akut di Indonesia. Kami juga akan memberikan bantuan vaksin flu burung,” beber Ivanov.

Di mata Ivanov, posisi Indonesia di kancah dunia memiliki peran penting, misalnya saja dalam forum KTT G-20. Keruntuhan sistem pasar uang di Wall Street, Amerika akibat subprime mortgage, menurut Ivanov, inilah saatnya Indonesia menunjukkan taringnya. Equality dengan negara-negara barat, adalah kata kunci yang ditegaskan oleh Ivanov.

“Model perekonomian baru itu harus memiliki suara sejajar dengan ekonomi negara maju. Disisi lain jika tetap bertahan dengan cara pandang segelintir negara dalam ekonomi sistem keuangan, maka yang terjadi adalah, kita (dunia) akan jatuh dalam krisis keuangan yang serius,” ujarnya.

Pada pertemuan KTT G-20, Rusia adalah salah satu negara yang ngotot agar ada reformasi pasar keuangan, yang loss control. Rusia, Brasil, India, dan China (BRIC) adalah negara-negara yang mendesak reformasi pasar keuangan di forum KTT G-20. Ivanov memprediksikan nantinya sistem ekonomi dunia tak lagi unipolar, dimana kiblat dunia berada dalam kendali satu negara.

“Kesejahteraan adalah milik multi-polar. Rusia dan Indonesia harus berani maju bersama. Dan kedua negara meyakini bahwa ada persamaan hak di dunia ini,” tegas Ivanov. Ia bahkan optimis Indonesia bisa menjadi leader region di kawasan Asia.

Oleh sebab itu hubungan Rusia-Indonesia tidak sekedar basa-basi. Kepada Merdeka, Ivanov bahkan menegaskan, “Indonesia adalah mitra strategis Rusia menatap masa depan.” (affan/aliramadhan)

You can leave a response, or trackback from your own site.

No Responses to ““Goliath” Migas Dari Negeri Beruang Merah”

Leave a Reply