Kami menunggu seseorang/ Menunggu seseorang yang membawa obor //, itulah sepenggal bait puisi Acep Zamzam Noor yang berjudul Perubahan. Puisi itu ditulisnya, karena dia resah dengan kondisi bangsa Indonesia yang sedang mengalami krisis karakter. Sementara tokoh yang ditunggu tak kunjung datang.
Perubahan yang menjadi mimpi Acep Zamzam Noor tinggal hanya pemanis bibir setiap hari. Setelah bangsa Indonesia mengalami reformasi, ternyata perubahan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.
Perubahan itu itu menguap se iring bangsa Indonesia yang kehilangan identitas dan karakter dirinya. Masyarakat Indonesia khususnya para pemimpin politiknya sedang terbius pragmatisme. Sehingga nilai intrisnik dapat dikalahkan dengan nilai nominal.
Fenomena krisis karakter tersebut terbayang dalam kebudayaan Indonesia. Wujudnya terindikasi pada para politisi yang hasus uang dan kekuasaan. Potret ini terjadi di Senayan dan di pemerintahan dari tingkat pusat hingga kelurahan. Indikasi bangsa Indonesia sedang mengalami krisis.
Situasi seperti menyeret para politisi untuk melakukan korupsi terus menerus. Dengan berbagai model dan strategi penguasa baik di eksekutif atau legislatif mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. “Kekuasaan itu dibeli dengan cara apa pun,” katanya.
Dalam pandangan penyair kelahiran kota Tasikmalaya itu, jika seseorang berkuasa dalam waktu lima tahun, dua tahun pertama ia harus mengumpulkan uang untuk mengembalikan modal ketika membeli kekuasaan. Tahun berikutnya dia mengumpulkan uang menjadi bekal untuk maju tahun berikutnya. Sisanya untuk me ngumpulkan kekayaan.
Politisi tidak punya waktu untuk memikirkan bagaimana membangun kebudayaan apa lagi tentang kesejahteraan rakyat. Presiden, menteri-menteri, bupati hingga lurah, merebut kekuasaan dengan cara yang sama. Apa lagi sekarang sistem Pilkada untuk meraih kekuasaan, biaya untuk bisa masuk kontestan Pilkada itu sangat besar termasuk didalamnya ada pemerasaan dari partai politik.
“Apa lagi sekarang ini semua hal pakai uang, oleh karena itu ketika seseorang memasuk dunia politik pasti akan berpikir bagaimana harus mengembalikan dan me ngumpulkan uang. Dari mana uang itu? itu harus dikembalikan, cara membayarnya macam-macam bisa lewat proyek misalnya,” ungkap kang Acep
Praktek seperti terjadi pada semua level dan tingkatan di ranah politik bangsa ini. Itu sejalan dengan hilangnya karakter Indonesia, yang terdiri dari berbagai suku dan bahasa, misalnya orang Sunda punya karakter sendiri, demikian Jawa, Sumatra, mereka mempunyai sebuah identitas yang sangat jelas.
Gedung Senayan yang dihuni oleh wakil-wakil rakyat merupakan gambaran utuh tentang hilangnya karakter tersebut. Walaupun mereka datang dari berbagai daerah dari Sabang sampai Merauke, tidak terlihat disitu adanya sesuatu yang khas dari mereka. Mereka menurut Acep, hanya menampilkan keseragaman. “Ketika ada sebuah kebijakan yang merugikan rakyat, mereka semua setuju. Ketika gaya hidup dan prilaku, mereka semua melakukan,” tegasnya.
Ketika ditanya apakah itu by design atau alamiah? Acep Zamzam Noor mengatakan, keduanya dapat menjadi sebab. “Ada proses by design yang kemudian mempengaruhi perkembangan dinamika itu secara alamiah. Itu dimulai ketika Orde Baru, bagaimana kekuasaan itu dipertahankan dengan memeratakan kesejahteraan kepada para pendukung kekuasaan, dengan membiarkan korupsi hidup,” jelasnya.
Korupsi yang awalnya menurut Acep, hanya hidup dilingkungan kekuasaan, tetapi sekarang korupsi merambat ke DPR, partai polik, bahkan ke hal-hal yang lebih kecil. “Ketika urusannya uang, keuntungan, hal-hal lain menjadi tidak penting,” keluhnya.
Dia pun menyayangkan karakter seperti itu hinggap di lingkung an kader-kader NU. Kader-kader sekarang sedang berlomba-lomba untuk memperebutkan jabatan, karena dengan jabatan tersebut kekayaan dan uang dapat dengan mudah didapat.
Karekter NU, ikhlas dalam berjuang pun tergerus oleh godaan uang dan kekuasaan itu. Menurut Acep, bagaimana tidak akan tergiur, kader NU atau kader apa pun yang tadinya luntang-lantung tidak punya pekerjaan, kemudian menjadi anggota DPR dalam waktu 2 tahun bisa kaya-raya. Kemudian dia akan memelihara junior-juniornya yang dibawah, dia kemudian menjadi idola.
Artinya, ada ketidaksabaran dari para politisi dan aktifis ketika memasuki dunia politik. Mereka tidak mempersiapkan diri dengan wawasan politik, sosial dan budaya. Mereka berangkat karena ingin saja dengan berbagai cara, dengan pencantolan, dengan patronase dan lain-lain. Kader-kader politisi sekarang terkesan tidak sabaran, mereka ingin cepat berkuasa, kata penyair kelahiran Tasimkalaya ini.
Dia membandingkan kader politik sekarang dengan dulu. Di kalangan NU saja misalnya, kalau dulu NU berpolitik itu ada penjenjangan yang sangat jelas, ada pelatihan-pelatihan. Ketika seseorang maju dalam politik, semua orang mendukungnya. “Kader-kader NU sekarang ini lebih banyak mengerjai kiyai,” katanya.
NU menurut putra sulung Ajengan Ilyas Richiyat ini, telah mengalami perubahan drastis. Karekter NU sedikit-demi sedikit terus menghilang. Padahal yang membanggakan dari NU menurutnya, adalah keikhlasan menggarap masyarakat sekitar, misalnya menggarap ekonominya.
“Kekuatan NU itu pada basis masyarakat di desa termasuk masyarakat miskin itu. Basis masyarakat ini yang seharusnya terus digarap NU,” tegasnya.
Dinamika yang diluar keinginannya tentang makna perubahan itu telah mengatarkan Acep Zamzam Noor untuk memilih jadi penyair. Bukan berarti dia tidak suka dengan politik, sebab dirinya dibesarkan di kalangan pesantren NU yang sangat kuat. Ia tidak tertarik dengan politisi yang bermain politik, bukan politisi yang berpolitik.
Sejak usia remaja, tepat masa usia SMP, pria kelahiran 1960 itu sudah tertari pada dunia sastra. Dia memilih menulis puisi sepagai bagian perjalanan hidupnya. Putra sulung Ajengan Ilyah Ruchiyat ini, terus menyeriusi hobinya itu. “Saya tidak berpikir macam-macam dengan sastra ini, kemudian saya menjalani ini secara serius,” katanya
Ketertarikan pada sastra juga terispirasi oleh dua penyair besar tanah air, yaitu Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Kedua tokoh sastrawan itu telah menghidupi elan kepenyairan pria lulusan pesantren itu. “Chairil Anwar dan Amim Hamzah, yang membuat saya menulis sampai sekarang,” akunya jujur.
Bagi Acep, Amir Hamzah merupakan tokoh tempat dirinya belajar bahasa Indonesia. Sementara pada tokoh Chairil Anwar Penggiat komunitas Azan Tasikmalaya ini, gelora tentang vitalitas kepenyairan. Dia pun telah memilih puisi sebagai medan perjuangannya. Tambah diyakinkan bahwa saya harus di jalur ini, semua orang arahnya ke kekuasaan dan itu bisa berbahaya. “Walaupun jalur ini sebenarnya tidak menguntungkan,” Ujarnya.
seniman nyentrik dari tasik ini, idola saya